Monday, November 26, 2012

Hidup ibarat sebuah rubik

Hemm kalo di pikir-pikir hidup ini seperti rubik, agar dapat membuat seluruh sisinya sempurna, kita harus fokus menyelesaikan salah satu sisi terlebih dahulu, kemudian menyelesaikan sisi lainnya tanpa merusak sisi yang telah disusun sebelumnya.

Rubik memiliki beragam warna, sama seperti hidup kita yang memili beragam kebahagiaan juga permasalahan. Rubik juga memiliki banyak sisi yang saling melengkapi, dalam hidup kita ibarat berada di salah satu sisi dan tentu saja membutuhkan orang lain untuk mengisi sisi lainnya, seperti keluarga, teman, sahabat, dll.

Dalam menyusun rubik terdapat berbagai macam rumus yang bisa digunakan. Begitu juga dengan hidup, semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu sukses dan bahagia, tidak ada yang ingin gagal juga menderita. Untuk mencapai tujuan tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan. Masing-masing orang memiliki caranya sendiri dalam meraih cita-citanya.

Menyelesaikan rubik tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran, keuletan dan ketelitian. Dalam menjalani hidup kita harus bersabar menghadapi segala rintangan dan tidak boleh menyerah. Kita juga harus belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan agar tidak "terjatuh di lubang yang sama".

Ini hanya sekedar perumpamaan saja, karena dalam kenyataannya hidup jauh lebih kompleks daripada sekedar menyusun rubik. No matter how difficult it may seem, life must go on!

Cokelat, Mutiara, dan Karet Gelang

Cinta itu ibarat cokelat
Ada pahit ada manis
Ketika memakannya jangan sekaligus dilahap
Biarkan rasa manis dan pahitnya lumer di lidah
Agar kita bisa merasakan kelezatannya


Cinta bagaikan sebuah mutiara
Indah dan berkilauan
Mempunyai nilai jual yang tinggi
Setiap orang ingin memilikinya
Namun tidak mudah untuk mendapatkannya

Cinta itu abadi seperti permata
Tak akan pernah memudar walau dimakan waktu
Dan tetap bertahan walau dimakan usia

Cinta juga seperti karet gelang
Kadang ia kendor dan melar
Kadang kencang juga mengikat

Sunday, November 25, 2012

Tentang Rasa

Kini ku temukan faktanya
bahwa tak hanya aku yang merasa
Apa yang ku rasa
Ku yakin dia pun merasa
Dengan apa yang dia rasa

Dan kini..
Kita saling memberi rasa
Membelai rasa
Menyatukan kata
Dalam rasa

Sehingga dapat ku kukuhkan
Bahwa aku dan dia
Telah jatuh cinta

Cinta?

Manusia akan berkata
"cinta itu anugerah"
disaat dia merasa bahagia

Manusia akan berkata
"cinta itu bencana"
apabila kecewa dan menderita

Seakan mereka tak menyadari
bahwa kata cinta
hanya menyimpan 2 pernyataan:
- bahagia dan derita
- tawa dan air mata
- bersama dan berpisah

Jadi, apa sebenarnya cinta?

Haruskah ku katakan cinta itu anugerah?
Padahal cinta telah membuatku menderita

Haruskah ku katakan cinta itu bencana?
Padahal aku sendiri menyadari
Sesungguhnya aku terlahir karena CINTA